Featured Post

Pentingnya Mengajarkan Literasi Digital Pada Anak Sejak Dini

Image
Zaman sekarang sudah menjadi hal biasa ketika kita melihat siswa SD memiliki smartphone sendiri, bahkan memiliki media sosial pribadi. Melalui sosial media tersebut, mereka dapat membagikan konten-konten berupa video dan foto. Fenomena ini seharusnya menjadi concern kita bersama. Bayangkan jika penggunaan media sosial oleh anak tersebut tidak diiringi dengan literasi digital, maka mereka akan semena-mena menggunakan media sosial sehingga menimbulkan kerugian bagi dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini pernah terjadi di lingkungan sekitar tempat tinggal saya. Seorang siswa SD tanpa izin menggunakan foto temannya sebagai foto profil media sosialnya. setelah ditanya lebih lanjut, di mengatakan hanya menggunakan foto temannya untuk mencari pengikut (followers) lebih banyak. Hal semacam ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, meskipun hanya sekedar "menggunakan foto teman" tetap saja tindakan tersebut tidak boleh dilakukan karena tidak meminta izin dulu kepada si pemilik foto. Ini

Cara Meningkatkan Kolaborasi Karyawan Gen Z di Era Digital

gen z

Gen Z atau generasi Z merupakan mereka yang lahir pada tahun 1997-2012, generasi ini sangat lekat dengan teknologi, karena pada zaman ini teknologi mulai berkembang pesat sehingga bisa dinikmati oleh generasi Z.

Gen Z tidak lepas dari pandangan negatif masyarakat, sebagian orang menyebut bahwa generasi ini merupakan generasi pemalas, manja, dan suka sesuatu yang instan. Padahal itu tidak selamanya benar, karena memiliki banyak kelebihan. Gen Z lebih mampu memanfaatkan teknologi untuk memudahkan pekerjaan mereka.

Di dunia kerja, Gen Z didominasi oleh para fresh graduate karena umumnya mereka baru lulus sekolah atau lulus kuliah. Oleh karena itu, saat ini Generasi Z sedang berada pada permulaan karirnya.

Sebelum adanya Gen Z, terdapat Generasi Baby Boomers, Generasi X, dan Generasi Milenial. Di dalam dunia kerja, setiap generasi memiliki karakteristiknya masing-masing sehingga tidak dapat disamakan, berikut perbedaannya

1. Generasi Baby Boomers

Generasi ini merupakan individu yang lahir pada tahun 1946-1964. Generasi ini memiliki karakteristik kompetitif, berorientasi pada pencapaian, tidak suka dikritik, dan lebih suka mengkritik generasi muda yang tidak mengikuti norma dan etika dalam bekerja.

Sebagai generasi tua, Baby Boomers juga seperti tidak ingin ketinggalan jaman. Sebagian dari mereka masih peduli dengan perkembangan teknologi dan mau mencoba hal baru yang berkaitan dengan kemajuan zaman. Contohnya pada saat ini kita tau bahwa platform media sosial didominasi oleh kalangan tua.  

2. Generasi X

Gen X merupakan mereka yang lahir pada tahun (1965-1976). Di masa ini televisi, komputer, video games baru ditemukan. Dalam pekerjaan, generasi ini memiliki karakteristik disiplin, mandiri, dan dapat menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi. 

3. Generasi Y atau Millenial

Generasi Milenial merupakan mereka yang lahir pada 1977-1996. Generasi ini hidup di masa peralihan teknologi, penyebaran televisi mulai merata, internet mulai berkembang pesat hingga munculnya media sosial. Generasi ini dikenal dengan generasi pertama digital native karena hidupnya terbiasa menggunakan teknologi

Di dalam dunia kerja, generasi millenial dikenal sebagai pekerja yang berani berpendapat, memiliki rasa percaya diri yang tinggi, dan rentan stress karena tekanan pekerjaan.

4. Generasi Z

Gen Z adalah mereka yang lahir pada tahun 1997-2010. Generasi ini tumbuh di masa serba digital dan canggih, hal ini membuat mereka cepat beradaptasi dengan teknologi canggih yang bahkan generasi sebelumnya pun belum bisa menggunakannya. 

Rata-rasa Gen Z sudah memiliki handphone pertama mereka pada usia 11 tahun. Oleh karena itu, tidak heran generasi ini menguasai teknologi. 

Ketergantungan Gen Z dengan alat teknologi seperti smartphone dan PC tidak dapat dihindari, karena mereka menggunakan alat-alat tersebut untuk bersosialisasi di dunia maya. Hal tersebut akan berdampak negatif jika Gen Z tidak memiliki kontrol diri yang baik dalam bersosialisasi di media sosial.

Di dalam dunia kerja, mereka merupakan karyawan yang melek teknologi dan bisa memanfaatkan teknologi untuk memudahkan pekerjaan, karena itu Gen Z lebih cepat mempelajari hal baru.

Meskipun demikian, diketahui bahwa ternyata Gen Z lebih suka bekerja mandiri dari pada berkelompok. Apa yang menyebabkan mereka lebih suka bekerja  sendiri?

Gen Z Lebih Senang Bekerja Secara Mandiri

Menurut talentics, Generasi Z lebih suka bekerja mandiri dengan 45 persen memilih bekerja di ruang pribadi dari pada ruangan terbuka/digunakan bersama-sama. 

Hal tersebut bukan tanpa alasan, Gen Z yang sangat melek dengan teknologi memiliki berbagai cara untuk menyelesaikan pekerjaan mereka tanpa dibantu orang lain. Mereka bisa kapan saja mengakses informasi melalui smartphone. 

Mereka dapat menyelesaikan tugasnya tanpa bergantung pada orang lain. 72 persen Gen Z mengatakan bahwa mereka kompetitif, kekuatan mereka ditentukan oleh daya saing.

Jiwa kompetitif itu mungkin saja muncul dari persaingan yang ketat di antara Gen Z, setiap individu berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Sehingga hal tersebut terbawa sampai ke dunia kerja.

Hal ini lah membuat mereka berbeda dengan generasi sebelumnya. Kolaborasi atau kerjasama adalah hal yang disukai oleh Millenial dalam bekerja. 

Kolaborasi diperlukan dalam pekerjaan. Dampak baik dari kolaborasi adalah munculnya rasa keakraban antar karyawan dan bisa meningkatkan Employee Engagement. Lalu, apa yang harus perusahaan lakukan agar Gen Z mau melakukan kolaborasi?

Worxspace: Solusi Meningkatkan Kolaborasi dan Produktivitas Gen Z

Untuk meningkatkan kolaborasi karyawan Gen Z. Terlebih dahulu kamu harus mengetahui apa yang mereka butuhkan dalam bekerja. Menurut penelitian oleh talentlms, terdapat beberapa keinginan Gen Z dalam bekerja, diantaranya

1. Perhatian terhadap kesehatan mental

Kesehatan mental merupakan hal yang sangat diperhatikan oleh Gen Z. Berkaca dari banyaknya penyakit mental yang diterima oleh karyawan membuat Gen Z lebih aware dengan kesehatan mental dan menginginkan tempat kerja yang sehat.

Aplikasi kolaborasi Worxspace merupakan aplikasi yang ramah bagi karyawan. Hubungan karyawan dengan karyawan dan dengan perusahaan bisa semakin dekat dengan adanya fitur salam. Worxspace memfasilitasi karyawan dengan saling berinteraksi dengan menggunakan fitur greeting.

Karyawan dapat mengirimkan ucapan selamat pada karyawan yang baru bergabung atau karyawan yang sedang berulang tahun. Saat karyawan baru bergabung, aplikasi secara otomatis akan mengirimkan notifikasi agar karyawan lain dapat memberikan selamat.

Momen ini dapat mempererat hubungan antar karyawan. Bagi karyawan baru, hal ini akan membuat dirinya merasa diterima di lingkungan baru tempat dia bekerja. sehingga proses adaptasi bisa berjalan lancar.

Dengan suasana hangat yang tercipta melalui Worxspace, Gen Z akan lebih bersemangat melakukan kolaborasi karena sudah memiliki rasa keterkaitan dengan karyawan lain. 

2. Fleksibel dan model kerja hybrid

Hybrid working merupakan model kerja yang fleksibel yang memungkinkan karyawan dapat bekerja di berbagai lokasi. Model kerja seperti ini memberikan keleluasaan pada karyawan sehingga karyawan merasakan pengalaman bekerja lebih baik.

Agar kolaborasi berjalan dengan lancar, aplikasi hr Worxspace hadir sebagai platform komunikasi dan kolaborasi karyawan. Melalui Worxspace, kolaborasi dapat dilakukan secara online.

Worxspace menyediakan platform chat yang dirancang khusus untuk kolaborasi internal. Karyawan dapat membuat obrolan pribadi dengan kemudahan mengakses semua kontak karyawan. Selain itu juga ada obrolan grup agar obrolan lebih fleksibel, ruang obrolan chat juga memungkinkan karyawan mengirimkan stiker untuk memperlihatkan ekspresi.

Selain itu, juga ada fitur bot obrolan dan pesan siaran yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Pengajuan perizinan juga dapat dilakukan dalam aplikasi, karyawan lebih dimudahkan dalam hal ini.

Untuk memastikan tim berkolaborasi dengan baik, Worxspace membuat agenda pekerjaan menjadi lebih mudah. Terdapat fitur tagging karyawan, notifikasi, dan komentar yang berguna untuk mempermudah kerjasama dalam tim.

Baca Juga : 4 Soft Skill ini Menunjang Produktivitas Karyawan di Perusahaan

worxspace

Kesimpulan

Kolaborasi dapat dilaksanakan jika lingkungan kerja mendukung terciptanya kerjasama yang baik dan fleksibel. Pemanfaatan teknologi dapat digunakan agar kolaborasi menjadi lebih menyenangkan bagi karyawan. Dengan demikian, produktivitas karyawan pun turut meningkat.

Salah satu yang bisa dilakukan perusahaan adalah menggunakan aplikasi Worxspace sebagai platform komunikasi dan kolaborasi antar karyawan. Pekerjaan HR juga akan terbantu dalam menyediakan tools komunikasi, kolaborasi, dan smart personalia.

Comments

Popular

Tanggal Foto dan Video di HP Bisa Diubah Dengan Cara ini

Editor Foto Awan Bergerak Membuat Foto Jadi Estetik

Cara Terbaru Mengatasi Bandicam yang Tidak Keluar Suara dan Membuat Suara Jadi Jernih

Teknologi AR Photocard Sedang Populer di Kalangan Penggemar Kpop